Loading...

Sabtu, 30 Juni 2012

Asuhan Keperawatan Sirosis Hepatis


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1     Pengertian
Sirosis hepatis adalah penyakit gangguan hati kronis dimana terjadi kerusakan sel hati dan pembentukkan jaringan fibrosa. (Sylvia A. Price. 2005)

Sirosis hepatis adalah suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatic yang berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi dari arsitektur hepar dan pembentukkan nodulus regenerative. Gambaran ini terjadi akibat nekrosis hepatoselular. Jaringan penunjang retikulin kolaps disertai deposit jaringan ikat, distorsi jaringan vascular, dan regenerasi nodularis parenkim hati. (FKUI. 2006)

Menurut Brunner & Suddarth. 2002 sirosis hepatis merupakan penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan menahun pada hat, diikuti dengan poliferasi jaringan ikat, degenerasi dan regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalamsusunan perenkim hati.

2.2  Klasifikasi Sirosis Hepatis 
2.2.1        Tipe Kardiak sirosis
Liver membengkak dan berubahsecara reversibal,jika CHF diobati secara efektif. Beberapa fibrosis akan terjadi pada penderita CHF yang lama.
Etiologi : Gagal jantung sisi kanan (CHF).
2.2.2        Tipe Biliary sirosis
Kerusakan kronis pada saluran empedu, pada mulanya liver membesar, kemudian mengeras dan nodular, jaundice (penyakit kuning) adalah gejala utama.
Etiologi : Kerusakan biliary dalam liver dan saluran empedu.
2.2.3        Tipe Sirosis post nekrotik
Ukuran liver mengecil dengan noidula jaringan fibrosa.
Etiologi : Nekrosi yang berlebihandari hepatotoxindan biasanya oleh virus hepatitis.
2.2.4        Tipe Sirosis Laennec (nutrisi,portalor alcoholic sirosis)
Pembentukan kolagen secara berlebihan , liver dilapisi oleh lemak yang meluas dan akhirnya lemak menjadi kecil dan nodular.
Etiologi : Alkioholisme, malnutrisi.
2.2.5        Tipe Non specific metabolic sirosis
Portal dan fibrosis hati akan berkembang, dan hati membesar dan mengeras.
Etiologi :Masalah nfiltrate penyakit infeksi,penyakit nfiltrate dan penyakit GI.

2.3  Anatomi dan Fisiologi Hepar
2.3.1        Stuktur Anatomi Hepar
2.3.1.1  Hepar
Hepar merupakan organ yang paling besar dalam tubuh kita, warnanya coklat dan beratnya sekitar 1300-1550 gram. Hepar mempunyai bentuk melebar yang kasar dengan bagian dasarnya pada sebelah kanan dan bagian aspeknya pada sebelah kiri, hepar teletak pada kuadran kanan atas abdomen yang terlindungi oleh tulang rusuk kartilago kustae.
2.3.1.2 Pembuluh darah pada hati
Hati mempunyai dua jenis peredaran darah yaitu arteri hepatica dan vena porta.
2.3.1.3 Lobus
Ligament fasifarum dan peritoneum sebelah atas dan suatu system yang berbentuk H dari fosa (dengan fisura porta sebagian besar yang menyilang H) sebagian membagi hepar kedalam yaitu lobus kanan yang besar, lobus kiri yang kecil, lobus quadrates dan lobus kaudatus, lobus-lobus pada aspek viseral.

2.3.2        Fisiologi Hepar
Fungsi hati dibagi atas 3 macam yaitu :
2.3.2.1  Fungsi pembentukan dan ekresi empedu
Empedu dibentuk secara terus-menerus oleh hepatosit dan dikumpulkan dalam kanikulus serta saluran empedu. Empedu terutama tersusun dari air dan elektrolit, seperti natrium, kalium, kalisium, klorida serta bikarbonat dan juga mengandung dalam jumlah yang berarti beberapa substansi serta garam-garam empedu. Empedu dikumpulkan dan disimpan didalan kandung empedu untuk kemudian dialirkan kedalam intestinum bila diperlikan bagi pencernaan. (Brunner and Suddarth, 2001)
2.3.2.2  Fungsi metabolik
Metabolism adalah proses sel yang berlangsung terus-menerus dimana molekul-molekul makanan dasar dibentuk menjadi struktur sel atau simpanan energi dan kemudian diuraikan dan digunakan untuk menjalankan fungsi-fungsi sel. Hati penting untuk anabolisme dan katabolisme.
2.3.2.3  Fungsi vaskuler hati
Hati menerima suplai darahnya dari dua sumber yang berbeda yaitu darah vena sekitar 1000mL/menit dan darah arteri sekitar 500mL/menit dan memiliki saturasi oksigen yang tinggi. Kedua sumber darah tersebut mengalir kedalam kapiler hati yang disebut sinusoid.

2.4 Etiologi
Beberapa penyebab dari sirosis hepatic yang sering adalah:
1)      Post nekrotic cirrhosis (viral hepatits)
2)      Proses autoimmune:
a)      Cronic active hepatitis.
b)      Biliary cirhosis
3)      Alkoholisme
4)      Kriptogenik
5)      Kardiak
6)      Metabolik, keturunan dan terkait obat

2.5  Patofisiologi
Sirosis laenneec yang disebabkan oleh alkoholisme dan pada tipe – tipe sirosis lainnya penimbunan lemak di hati adalah perubahan pertama atau awal yangh muncul.penimbhunan lemak ini dapat diatasi apabila factor penyebabnya dihentikan (alcohol,malnutrisi,kerusakan saluran empedu. Jika proses degenerasi berlanjut maka terjadilah inflamasi akut ( hepatitis alcohol ) dan mengakibatkan sirosis.
Akibat dari bebrapa jenis sirosis hati ini terjadi kehilangan fungsi hati dan menjimbulkan obstruksi pada pembuluh darah ke hati.Perubahan fisiologis biasanya dilihat kemudian setelah penyakit ini menjadi lebih berat.Perubahan fisiologis ini juga akan muncul bila kerusakan hati sudah mencapai ¾ bagian.
Perubahan fibrotik hati karena adanya obstruksi dan kerusakan struktur hati mengakibatkan obstruksi pada vena limpa dan aliran darah portal.kerusakan ini dapat menyebabkan masalah lain seperti retensi cairan,termasuk Peningkatan oedem ,asites dan hidrotorax. Peningkatan tekanan pada vena porta dan obstruksi vena limpa mengakibatkan splenomegali dan perubahan fungsi limpa, yang bisa menyebabkan leukopenia, trombositopenia dan anemia. Hipertensi portal menyebabkan tekanan vena, hemostasis vascular, pemekaran pembuluh vena, hemorrhoid dan varises esopahagus.

Virus hepatitis
Inflamasi hati dan sekresi antigen antibody terus menerus
Kematian sel parenkim hati
Timbul kolaps pada kerangka reticulum
Terbentuk jaringan parut yang luas
Peradangan pada sel hati

                                                                                                                   
Terjadi bendungan dalam empedu      merangsang medula vomiting klien rawat di RS
                                                                                                                   
M’absorpsi asam dgn garam empedu   mual, muntah reaksi klien thdp stress
                                                                                                                   
Terangsang saraf sensoris                    ggn nutrisi                              stress psikologik
                                                                                                                     
Pruritis                                                                                     ggn rasa aman:cemas
                                  merangsang serabut saraf
Kerusakan integritas kulit    reseptor nyeri mengeluarken serotonin
dan bradikinin
                                  asupan makan berkurang
Hipotalamus                                       
                                                                                              metabolisme tubuh ↓
Cortex cerebri                                    
                                  pembentukan ATP ↓
Nyeri dipersepsikan                                       
                                                          lemas
Ggn rasa nyaman:nyeri                               
Ggn pemenuhan keb ADL



2.6  Manifestasi Klinis
  1. Mual-mual, nafsu makan menurun
  2. Cepat lelah
  3. Kelemahan otot
  4. Penurunan berat badan
  5. Air kencing berwarna gelap
  6. Kadang-kadang hati teraba keras
  7. Ikterus, spider naevi, erytema palmaris
8.      Asites
  1. Hematemesis, melena
  2. Ensefalopati

2.7  Pencegahan
2.7.1        Pencegahan Primer
1.            Mengurangi konsumsi alkohol
2.            Istirahat yang cukup
3.            Makanan tinggi kalori dan protein
4.            Vitamin yang cukup
5.            Pengobatan terhadap penyulit.
2.7.2        Pencegahan sekunder
Deteksi awal sirosis biasanya sulit karena tanda-tanda sirosis,perubahan fungsi fisiologis dari hati akan muncul bila hati telah mengalami kerusakan  ¾ bagian. Atas alasan ini pemantauan konsumsi alkohol menjadi fokus pencegahan.

2.8  Penatalaksanaan
2.8.1 Pengobatan
Bila dengan istirahat dan diit asites tidak dapat diatasi, berikan pengobatab diuretic yang disertai KCl atau kalium durules. Bila natrium rendah diberikan diit bebas garam, bila perlu diuretic dihentikan sementara.
2.8.2  Memperbaiki keadaan gizi, bila perlu dengan pemberian infuse larutan albumin secara perlahan-lahan dan larutan glukosa
2.8.3  Bila setelah 4 hari penurunan berat badan kurang dari 1kg, diberikan amilorid 100mg/har. Bila penurunan berat badan kurang dari 2kg, tinggikan dosis amilorid 200mg/hari. Hentikan diuretic bila timbul procoma hipokalemia alkalosis atau penurunan berat badan kurang dari 0,3kg/hari
2.8.4  Vit. K pada kasus dengan kecenderungan perdarahan



2.9     Pemeriksaan Diagnostik
2.9.1  Meningkatnya serum SGOT, SGPTtostafese alkali dan bilirubin total. Pada pemeriksaan feces test benzidin (+), urobilinogen meningkat, protein total dan albumin menurun karena hati mengalami gangguan dalam mensintesa protein. Serum globulin meningkat karena terjadi peningkatan sintesa globulin dan factor pembekuan termasuk fibrinogen akan menurun. Masa protombin memanjang karena sintesa protombin oleh hati menurun, Hb dan Ht menurun.
2.9.2  USG untuk mengukur perbedaan densitas antara sel-sel parenkim hati dan jaringan parut
2.9.3  MRI untuk memberikan informasi tentang besarnya hati
2.9.4  Analisa gas darah untuk mengetahui keseimbangan ventilasi, perfusi dan hipoksia

2.10    Pengkajian Data Fokus
2.10.1 Identitas Klien
Identitas klien terdiri dari Nama klien, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa,alamat, tanggal masuk RS, No. Medrec
2.10.2 Identitas Penanggung Jawab
Identitas penanggung jawab klien terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, alamat, hubungan dengan klien
2.11.3 Keluhan Utama
Biasanya klien atau keluarga klien mengeluh batuk dengan atau tanpa dahak lebih dari tiga minggu
2.11.4 Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat kesehatan sekarang merupakan perjalanan penyakit klien mulai dari rumah klien hingga dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan metode PQRST
2.11.5 Riwayat Penyakit Dahulu
Dalam pengkajian riwayat penyakit dahulu ditemukan apakah klien pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya atu pernah menderita penyakit lain hingga harus di rawat di rumah sakit
2.11.6 Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam pengkajian riwayat penyakit keluaraga dapat diketahui apakah ada keluarga klien yang memiliki penyakit yang sama seperti klien atau memiliki penyakit menular atau penyakit keturunan lainnya
2.11.7 Genogram
Genogram keluarga klien terdiri dari tiga generasi

2.12 Pola Aktivitas Klien
Jenis aktivitas
Sebelum sakit
Saat sakit
Pola makan dan minum


·         Jenis mak / minuman
·         Frekuensi
·         Kuantitas
·         konsistensi
Nasi/air putih
3x/hari
1 porsi
padat
Bubur/air putih
3x/hari
½ porsi
kental
Pola eliminasi BAB / BAK


·         Frekuensi BAB
·         Warna
·         Konsistensi

·         Frekeunsi BAK
·         Warna
·         konsistensi
1x/hari
Kuning
Padat

6x/hari
Kuning
cair
2-3x/hari
gelap
Cair

5x/hari
pekat
cair
Pola Personal Hygiene


·         Frekuensi
·         Ganti Pakaian
2x/hari
2x/hari
1x/hari
1x/hari
Pola istirahat dan tidur


·         Frekuensi
·         Kualitas

1x/hari

nyenyak
4x/hari

gelisah

2.13 Pemeriksaan Fisik
2.13.1 Tanda-tanda Vital
TD          : > 120/90mmHg
Nadi       : > 80X / mnt
RR          : > 24x / mnt
T             : > 37Âșc           
2.13.2 Pemeriksaan fisik persistem
2.13.2.1 System Pernafasan :
Inspeksi           : RR cepat > 24x/mnt
                           Pergerakan dinding dada simetris / asimetris
                           Tampak sputum berwarna hijau dan kental
Auskultasi       : Suara nafas tambahan Ronchi (+)
Palpasi             : adanya nyeri tekan
Perkusi            : terdengar suara resonan (nyaring) pada dada sebelah kanan

2.13.2.2 System Cardiovaskuler :
Nadi takikardi
Terdapat suara tambahan (murmur)
Disritmia bunyi jantung ekstra (S3, S4)

2.13.2.3 System Pencernaan :
Frekuensi BAB lebih sering
Konsistensi BAB cair
Berat badan menurun setiap hari
Distensi abdomen (asites)

2.13.2.4 System Perkemihan
Frekuensi BAK lebih sering
Warna urine cenderung lebih pekat
Urine bau keton

2.13.2.5 System Musculoskeletal
Penurunan tonus otot
Letargi
Mudah lelah

2.13.2.6 System Reproduksi
Terdapat gangguan menstruasi
Atrofi testis
Kehilangan rambut (dada, axila, pubis)

2.14    Analisa Data
No
DATA
ETIOLOGI
MASALAH
1.
DS: Kemungkinan klien mengatakan nyeri pada  abdomen
DO:
-    Nyeri tekan
-    Klien tampak memegang perutnya
-    Klien tampak meringis ketika di palpasi abdomenkuadran atas
-    Skala nyeri (0-5)

Virus hepatitis
Inflamasi hati dan sekresi antigen antibody terus menerus
Kematian sel parenkim hati
Timbul kolaps pada kerangka reticulum
Terbentuk jaringan parut yang luas
Peradangan pada sel hati
merangsang serabut saraf reseptor nyeri mengeluarken serotonin dan bradikinin
Hipotalamus
Cortex cerebri
Nyeri dipersepsikan
Ggn rasa nyaman:nyeri


Ggn rasa nyaman:nyeri

2.
DS : kemungkinan klien mengatakan mual
DO :
-    Klien tampak mual muntah
-    Anoreksia
-    Nyeri abdomen
-    BB menurun
-    Porsi makan tidak habis
Peradangan pada sel hati
merangsang medula vomiting
mual, muntah
ggn nutrisi

Gangguan pemenuhan nutrisi
3.
DS: Kemungkinan klien mengatakan lemas
DO :
-    Klien tampak bedrest
-    Aktivitas klien tampak dibantu
-    Klien tampak lemas
mual, muntah
asupan makan berkurang
metabolisme tubuh ↓
pembentukan ATP ↓
lemas
Ggn pemenuhan keb ADL

Gangguan pemenuhan ADL
4.
DS : Kemungkinan klien mengatakan gatal pada bagian badan
DO :
-    Klien tampak menggaruk bagian tubuh yang gatal
-    Terdapat pruritis
-    Warna kulit yang digaruk memerah
Peradangan pada sel hati
Terjadi bendungan dalam empedu
M’absorpsi asam dgn garam empedu
Terangsang saraf sensoris
Pruritis
Kerusakan integritas kulit

Kerusakan integritas kulit
5.
DS : Kemungkinan keluarga klien mengatakan cemas dengan kondisi klien
DO :
-    Kleuarga klien tampak gelisah
-    Keluarga klien selalu menanyakan tentang keadaan klien
Peradangan pada sel hati
klien rawat di RS
reaksi klien thdp stress
stress psikologik
ggn rasa aman:cemas

Gangguan rasa aman : cemas


2.15    Diagnosa Keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d proses peradangan
2.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi b.d anoreksia
3.      Gangguan pemenuhan ADL b.d kelemahan fisik
4.      Gangguan rasa aman : cemas b.d proses hospitalisasi
5.      Kerusakan integritas kulit b.d pruritis


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar